Selasa, 27 April 2010
BOSDA
PEMPROV SIAPKAN RP 498 M UNTUK BOSDA 2010
Jatim Newsroom, Selasa (27/4);
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menyiapkan anggaran sebesar Rp 498 miliar untuk Biaya Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) pada 2010 ini. BOSDA akan diberikan kepada siswa/santri dan guru di Madrasah Diniyah (Madin) tingkat Ula dan Usto.
Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo saat menghadiri acara Ngopi (Ngobrol Pinter Bareng Pakde Karwo) di salah satu stasiun televisi lokal Jatim, Senin (26/4) sore mengatakan, BOSDA merupakan bantuan kepada sekolah yang tidak mendapatkan bantuan dari Biaya Operasional Nasional (BOSNAS). Sekolah itu, yakni Madin pada tingkat Ula (setara Sekolah Dasar, red) dan Usto (setara Sekolah Menengah Pertama, red).
“Pemprov akan berkoordinasi dengan pemkab dan pemkot untuk penyelenggaraan BOSDA 2010 ini. Maksudnya, dana BOSDA 50% berasal dari pemprov dan 50% lagi berasal dari pemkab atau pemkot,” jelasnya.
Program ini telah berjalan sejak 2009 lalu, namun tahun lalu dikhususkan pada pembenahan sarana prasarana sekolah, pembelian buku, dan lain sebagainya. Untuk tahun ini BOSDA diberikan kepada siswa/santri dan guru. Selama ini, Madin tidak mendapat bantuan operasional dari kementerian agama. Sehingga, seringkali pengajaran tidak optimal karena fasilitas kurang memadai.
“Pendidikan dan kesehatan merupakan jembatan untuk menuju kesuksesan. Karena itu, keduanya harus dioptimalkan pelaksanaannya agar angka kemiskinan di Jatim dapat menurun,” ujarnya.
Sasaran BOSDA ditujukan kepada masyarakat miskin dan sangat miskin. Saat ini, masyarakat miskin di Jatim sebanyak 1.256.122 orang dan masyarakat sangat miskin sebanyak 493.004 orang. Sedangkan bagi penerima BOSDA dapat dilihat melalui surat kabar yang datanya selalu diperbaharui tiap bulannya. Untuk syarat Madin yang akan mendapatkan BOSDA, harus ada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Kewarganegaraan, dan Biologi dan mata pelajaran yang diajarkan di Madin itu.
Untuk pengawasan dan menghindari adanya penyelewengan dana BOSDA, akan dilakukan oleh komite sekolah, dan tiap tiga bulan sekali akan di audit oleh tim BOSDA yang merupakan gabungan intansi terkait dari pemprov dan pemkab/pemkot.
Seperti diketahui, BOSDA merupakan program pemprov yang sistemnya sama dengan BOSNAS. Bedanya hanya pada sasarannya saja. BOSDA ditujukan kepada Madin, sedangkan BOSNAS diberikan kepada sekolah-sekolah formal yaitu SD/sederajat, SMP/sederajat, dan SMA/sederajat. BOSNAS pada awalnya mulai diberlakukan di Jatim pada 2005 lalu untuk wajib belajar 9 tahun. Kemudian pada 2006, diadopsi nasional karena melihat program ini berhasil di Jatim.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Prov Jatim, Drs Suwanto MSi ditemui pada acara yang sama mengatakan, penerima BOSDA akan mendapatkan bantuan selama 1 tahun. Kemudian akan dilakukan pembaharuan data pada tahun selanjutnya. Untuk penerima BOSDA 2010 ini, yakni 760 ribu siswa/santri ditingkatan Madin Ula, 148 ribu siswa atau santri ditingkatan Madin Usto, dan 28 ribu guru Madin. Sedangkan untuk nominalnya Rp 15 ribu bagi siswa atau santri tingkat Madin Ula, Rp 25 ribu bagi siswa/santri tingkat Madin Usto, dan bantuan sebanyak Rp 300 ribu per bulan bagi guru Madin. Dana ini sebanyak 50% dari pemprov dan 50% dari pemkab/pemkot.(*/jn/p03)

Brigjen TNI Leonardus JP. Siegers, S.IP. Jabat Kasdam V/Brawijaya
Surabaya,
Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Suwarno, S.IP., M.Sc. pada Senin (26/4) melantik Brigjen TNI Leonardus JP. Siegers, S.IP. sebagai Kepala Staf Kodam V/Brawijaya yang baru menggantikan Brigjen TNI Bambang Sumarno di Makodam V/Brawijaya.
Brigjen TNI Bambang Sumarno selanjutnya akan menduduki jabatan baru di Mabes TNI sebagai Wairjen TNI sedangkan Brigjen TNI Leonardus JP. Siegers, S.IP. sebelumnya menjabat sebagai Komandan Pusat Persenjataan Arhanud TNI AD di Cimahi.
Mutasi dan pergantian pejabat di lingkungan Kodam V/Brawijaya seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi, dalam rangka proses pembinaan personel dan satuan sesuai tuntutan perkembangan dan kebutuhan organisasi. Selain itu, alih tugas dan jabatan bertujuan untuk mengembangkan kualitas kepemimpinan, wawasan manajemen dan profesionalisme keprajuritan agar semakin mampu memberikan karya terbaiknya dalam melaksanakan tugas.
Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Suwarno, S.IP., M.Sc. ketika bertindak selaku inspektur upacara serah terima Jabatan Kasdam V/Brawijaya mengatakan bahwa semakin tinggi jabatan yang di berikan kepada seorang perwira, maka dituntut untuk semakin tinggi pula pengalaman, wawasan dan kemampuan manajemen yang harus dimilikinya, oleh karena itu sejalan dengan upaya peningkatan kualitas diri diharapkan para perwira terus berusaha memantapkan kualitas kemampuan diri dengan senantiasa dilandasi kepribadian yang baik.
Tantangan tugas yang akan kita hadapi di masa mendatang bukannya semakin ringan, berbagai fenomena yang timbul di masyarakat telah mempengaruhi kehidupan prajurit bahwa ada kelompok-kelompok tertentu yang berusaha dengan berbagai cara untuk melemahkan sendi-sendi kehidupan dan ini harus disikapi dengan arif dan bijaksana agar dapat mengurangi serta mencegah semakin kompleknya permasalahan, jangan setiap permasalahan di pandang sebagai beban pekerjaan yang dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi tetapi harus disikapi dan ditangani secara proporsional sesuai tugas dan kondisi lingkungan yang sedang berkembang. (p03)
Sabtu, 24 April 2010
KADISPENDA:
SURABAYA - Dinas Pendapatan (Dispenda) Jawa Timur kesulitan mendata jumlah motor gede yang mesinnya berkapasitas 500 cc, karena motor yang harga jualnya lebih dari Rp 25 juta itu mayoritas berstatus bodong atau tidak memiliki surat kelengkapan kendaraan.
Ketua Komisi C DPRD Jatim, Kartika Hidayati, usai dengar pendapat dengan Biro Hukum, Biro Keuangan, dan Kadispenda Jatim, di Gedung DPRD Jatim, Kamis (22/4) sore mengatakan, dengar pendapat itu terkait Raperda tentang Pajak Daerah yang diajukan oleh eksekutif. Dalam raperda tersebut mengatur pajak kendaraan, terutama pajak motor gede dengan kepemilikan lebih dari satu.
Komisi C akan melakukan koordinasi dengan jajaran seperti Dispenda, dan Polda Jatim untuk mengawal dan menertibkan motor gede di Jatim yang tidak lengkap suratnya. Penertiban itu dengan sosialisasi kepada pemilik kendaraan agar mau mengurus surat kepemilikan.
”Kita minta diperketat, jika kendaraan yang masuk melanggar ketentan harus ditindak, karena ini kepentingan penegakkan perda. Disisi lain, untuk pemasukan pendapatan asli daerah,” tegasnya.
Menurut dia, mayoritas masyarakat yang memiliki motor gede adalah masyarakat menengah ke atas. Namun, masyarakat kalangan atas enggan mengurusnya, sehingga dispenda tidak dapat mendata secara resmi. ”Kita minta ada penindakan untuk masyarakat yang tidak wajib pajak. Selain itu, kita minta agar dispenda dan polisi mewaspadai manipulasi data kenadaraan,” katanya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim, Haryono Abdul Bari menjelaskan, jumlah kendaraan itu sangat banyak, dan pemiliknya orang kaya. Masyarakat justru enggan mengurus surat, sehingga potensi pajak tidak dapat direalisasikan. Pihaknya meminta polisi untuk menindak pemilik kendaraan yang tetap melanggar yakni tidak mau mengurus surat.
Kepala Dispenda Jatim, I Made Sutarya mengungkapkan, hingga saat ini memang masih banyak kendaraan bermotor yang tidak bisa memberikan kontribusi pajak terhadap pemerintah daerah. Seperti halnya, motor gede sejenis Harley Davidson.
Namun, pemerintah daerah tidak mempunyai data secara riil jumlah kendaraan yang dimiliki orang kaya. Sebab, kendaraan itu masuk ke Indonesia terutama Jatim melalui jalur gelap yang melanggar ketentuan hukum.
”Data secara pasti berapa banyak, kami tidak mengetahui. Untuk itu, pemprov akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menertibkan kendaraan itu. Dengan begitu raperda disahkan dan pajak rogresif berlaku, potensi kendaraan yang ada tidak sia-sia, dan pendapatan dapat meningkat,” ujarnya.
Menurut data Dispenda, sejak tahun 2005 jumlah motor gede yang bisa memberikan kontribusi pajak tidak lebih dari 50 kendaraan. Dengan kontribusi itu otomatis potensi pajak rendah. Padahal, setiap tahunnya pajak kendaraan yang dikenakan Rp 5-8 juta per kendaraan.
Sementara masyarakat yang bayar pajak untuk kendaraan tahun pembuatan 2007 sebanyak 95 orang, motor tahun pembuatan 2008 sebanyak 76 orang, dan motor tahun pembuatan 2009 sebanyak 85 orang.
Mengingat sebagian besar motor gede yang dimiliki masyarakat tidak memiliki surat kelengkapan kendaraan, Dispenda tidak dapat menerapkan potensi pendapatan dari pajak yang akan dikenakan.
”Ini jelas sulit, karena tidak ada surat-suratnya. Pengurusan pajak itu kan harus disertai surat, seperti STNK, dan BBKB. Otomatis kita tidak bisa memungut pajak, dan sulit untuk menggarap potensi pajak,” terangnya.
Ke depan, agar kendaraan yang masuk dapat terdata, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dirjen Bea Cukai untuk meminta lebih memperketat masuknya kendaraan impor. Setiap kendaraan impor yang datang harus mempunyai surat- surat kendaraan. (*/jn/p03)
SEBAGIAN BESAR MOTOR GEDE BODONG
SURABAYA - Dinas Pendapatan (Dispenda) Jawa Timur kesulitan mendata jumlah motor gede yang mesinnya berkapasitas 500 cc, karena motor yang harga jualnya lebih dari Rp 25 juta itu mayoritas berstatus bodong atau tidak memiliki surat kelengkapan kendaraan.
Ketua Komisi C DPRD Jatim, Kartika Hidayati, usai dengar pendapat dengan Biro Hukum, Biro Keuangan, dan Kadispenda Jatim, di Gedung DPRD Jatim, Kamis (22/4) sore mengatakan, dengar pendapat itu terkait Raperda tentang Pajak Daerah yang diajukan oleh eksekutif. Dalam raperda tersebut mengatur pajak kendaraan, terutama pajak motor gede dengan kepemilikan lebih dari satu.
Komisi C akan melakukan koordinasi dengan jajaran seperti Dispenda, dan Polda Jatim untuk mengawal dan menertibkan motor gede di Jatim yang tidak lengkap suratnya. Penertiban itu dengan sosialisasi kepada pemilik kendaraan agar mau mengurus surat kepemilikan.
”Kita minta diperketat, jika kendaraan yang masuk melanggar ketentan harus ditindak, karena ini kepentingan penegakkan perda. Disisi lain, untuk pemasukan pendapatan asli daerah,” tegasnya.
Menurut dia, mayoritas masyarakat yang memiliki motor gede adalah masyarakat menengah ke atas. Namun, masyarakat kalangan atas enggan mengurusnya, sehingga dispenda tidak dapat mendata secara resmi. ”Kita minta ada penindakan untuk masyarakat yang tidak wajib pajak. Selain itu, kita minta agar dispenda dan polisi mewaspadai manipulasi data kenadaraan,” katanya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Jatim, Haryono Abdul Bari menjelaskan, jumlah kendaraan itu sangat banyak, dan pemiliknya orang kaya. Masyarakat justru enggan mengurus surat, sehingga potensi pajak tidak dapat direalisasikan. Pihaknya meminta polisi untuk menindak pemilik kendaraan yang tetap melanggar yakni tidak mau mengurus surat.
Kepala Dispenda Jatim, I Made Sutarya mengungkapkan, hingga saat ini memang masih banyak kendaraan bermotor yang tidak bisa memberikan kontribusi pajak terhadap pemerintah daerah. Seperti halnya, motor gede sejenis Harley Davidson.
Namun, pemerintah daerah tidak mempunyai data secara riil jumlah kendaraan yang dimiliki orang kaya. Sebab, kendaraan itu masuk ke Indonesia terutama Jatim melalui jalur gelap yang melanggar ketentuan hukum.
”Data secara pasti berapa banyak, kami tidak mengetahui. Untuk itu, pemprov akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menertibkan kendaraan itu. Dengan begitu raperda disahkan dan pajak rogresif berlaku, potensi kendaraan yang ada tidak sia-sia, dan pendapatan dapat meningkat,” ujarnya.
Menurut data Dispenda, sejak tahun 2005 jumlah motor gede yang bisa memberikan kontribusi pajak tidak lebih dari 50 kendaraan. Dengan kontribusi itu otomatis potensi pajak rendah. Padahal, setiap tahunnya pajak kendaraan yang dikenakan Rp 5-8 juta per kendaraan.
Sementara masyarakat yang bayar pajak untuk kendaraan tahun pembuatan 2007 sebanyak 95 orang, motor tahun pembuatan 2008 sebanyak 76 orang, dan motor tahun pembuatan 2009 sebanyak 85 orang.
Mengingat sebagian besar motor gede yang dimiliki masyarakat tidak memiliki surat kelengkapan kendaraan, Dispenda tidak dapat menerapkan potensi pendapatan dari pajak yang akan dikenakan.
”Ini jelas sulit, karena tidak ada surat-suratnya. Pengurusan pajak itu kan harus disertai surat, seperti STNK, dan BBKB. Otomatis kita tidak bisa memungut pajak, dan sulit untuk menggarap potensi pajak,” terangnya.
Ke depan, agar kendaraan yang masuk dapat terdata, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dirjen Bea Cukai untuk meminta lebih memperketat masuknya kendaraan impor. Setiap kendaraan impor yang datang harus mempunyai surat- surat kendaraan. (*/jn/p03)
Kolonel Infanteri Suparno Jabat Danrindam V/Brawijaya
MALANG - Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Suwarno, S.IP., M.Sc. Kamis (22/4) lalu melantik Kolonel Infanteri Suparno sebagai Danrindam V/Brawijaya menggantikan Kolonel Infanteri Syukran Hambali, S.H di lapangan Dodikjur Rindam V/Brawijaya Malang.
Kolonel Infanteri Syukran Hambali, S.H. selanjutnya akan menduduki jabatan barunya sebagai Dosen Utama Seskoad sedangkan Danrindam V/Brawijaya yang baru Kolonel Infanteri Suparno sebelumnya menjabat sebagai Kabid Anev dan Seldik Seskoad.
Mutasi dan pergantian pejabat di lingkungan Kodam V/Brawijaya seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi, dalam rangka proses pembinaan personel dan satuan sesuai tuntutan perkembangan dan kebutuhan organisasi. Selain itu, alih tugas dan jabatan bertujuan untuk mengembangkan kualitas kepemimpinan, wawasan manajemen dan profesionalisme keprajuritan agar semakin mampu memberikan karya terbaiknya dalam melaksanakan tugas.
Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Suwarno, S.IP., M.Sc. ketika bertindak selaku inspektur upacara serah terima Jabatan Danrindam V/Brawijaya mengatakan Rindam V/Brawijaya sebagai Badan Pelaksana Kodam V/Brawijaya dalam bidang pendidikan dan latihan, memiliki peran penting untuk menciptakan, memantapkan dan meningkatkan kualitas sumber daya prajurit. Oleh karena itu, Rindam V/Brawijaya harus selalu bekerja keras dan menyadari betapa pentingnya sumber daya prajurit terlebih lagi menghadapi tantangan tugas ke depan yang tidak semakin ringan. Meningkatkan profesionalisme keprajuritan adalah salah satu komponen yang harus dimantapkan di lembaga pendidikan dan latihan seperti halnya Rindam V/Brawijaya ini.
Rindam V/Brawijaya sebagai lembaga candra dimuka bagi prajurit harus mampu membuktikan kemampuannya dalam mendidik dan melatih agar menjadi prajurit-prajurit yang tangguh dan profesional dalam setiap melaksanakan tugas. Lembaga pendidikan merupakan ujung tombak dalam pembinaan profesionalisme prajurit yang kelak akan berpengaruh besar bagi tegak, kokoh dan kuatnya TNI AD. Untuk itu bagi prajurit yang dipercaya sebagai tenaga pendidik harus merasa terhormat dan bangga karena dapat mengabdikan diri di lembaga pendidikan ini. Keberhasilan dan kegagalan dari suatu lembaga pendidikan dan latihan, baru akan terlihat setelah prajurit dari hasil didik dari lembaga tersebut berkiprah di satuan-satuan TNI AD. (p03)
Keluarga Besar Macan Loreng
Bakti Sosial Donor Darah
Kediri –
Rabu (21/4) pagi itu, di aula Brigif 16/WY tampak beberapa prajurit yang tidur terlentang diatas palbad berwarna hijau, sementara disisi lain juga ada beberapa anggota Persit yang juga rebah diatas palbad. Dan disamping prajurit maupun maupun anggota persit itu tampak beberapa orang mengenakan seragam putih yang tampak sibuk dengan peralatan medis mereka.
Anda jangan negative thinking dulu....!!! sebab prajurit maupun anggota Persit tersebut bukan sedang sakit ataupun terjangkit penyakit, tetapi mereka sedang melaksanakan kegiatan donor darah.
Ya...pagi itu bertepatan dengan Hari Kartini, Brigif 16/WY beserta jajarannya tengah melaksanakan kegiatan bakti sosial donor darah dalam rangka HUT ke 3 Brigif 16/WY serta HUT ke 64 Persit KCK.
Kegiatan tersebut diawali dengan apel bersama yang dilakukan oleh Kasiter Brigif 16/WY Mayor Inf Edy Sunarko,S.Sos. yang kemudian dilanjutkan dengan pengisian formulir, timbang berat badan dan cek tekanan darah sebelum pelaksanaan donor darah.
Tampak kali pertama melaksanakan donor dalam kesempatan tersebut adalah Danbrigif 16/WY Kol Inf Dedy Kusmayadi yang bersebelahan dengan Kasbrigif 16/WY Letkol Inf Dadang Hendrayudha. Yang kemudian disusul oleh personel prajurit Macan Kumbang lainnya serta anggota Persit KCK jajaran Cabang LVIII Brigif 16/WY.
Bergabung pula dalam kegiatan tersebut Ketua Persit KCK Cabang LVIII Brigif 16 Ny.Nining Dedy Kusmayadi, Wakil Ketua Cabang Ny.Susana Dadang Hendrayudha, Ketua Ranting 3 Ny. Dewi Iskandar beserta Pengurus Cabang maupun Ranting jajaran Cabang LVIII Brigif 16/WY.
Danbrigif 16/WY melalui Kasiter Brigif 16/WY Mayor Inf Edy Sunarko,S.Sos selaku Koordinator kegiatan mengatakan, kegiatan bakti sosial donor darah tersebut diikuti tidak kurang dari 214 prajurit dan 45 anggota Persit. Itu tidak termasuk 8 orang yang ditolak oleh PMI karena kurang memenuhi persyaratan.
Lebih lanjut dikatakannya, kegiatan donor darah yang dilaksanakan ini semata-mata untuk mendukung program kemanusiaan melalui PMI.
“Perlu diingat,bahwa setetes darah yang kita donorkan sangat berarti bagi keselamatan jiwa seseorang,” tegasnya.
Oleh karena itu ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pendonor yang telah sukarela dan tulus ikhlas menyumbangkan darahnya dalam kegiatan donor darah tersebut.
Sementara itu dr.Ira Widyastuti, pimpinan rombongan PMI Kota Kediri yang melaksanakan pengambilan darah dalam kegiatan tersebut juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi prajurit maupun Persit yang telah turut andil dalam kegiatan tersebut.
“Mudah-mudahan niat tulus para prajurit maupun Persit Brigif 16/WY dalam donor darah ini mendapatkan berkah dan pahala dari Tuhan YME,” tuturnya.
Disisi lain wanita berwajah ayu tersebut juga mengharapkan, kiranya prajurit yang ingin donor darah agar benar-benar diperhatikan kesehatannya, serta memperhatikan persyaratan yang telah ditentukan oleh PMI. Yaitu seseorang yang ingin donor darah hendaknya ada jeda waktu minimal tiga bulan sejak terakhir ia melaksanakan donor darah.
“Iya sih mas...saya itu gimana ya..Kalau di tentara itu, banyak sekali prajurit yang ingin donor darah. Padahal dia belum ada tiga bulan, sejak terakhir ia mendonorkan darahnya. Sehingga trombosit darahnya belum normal. Lha nanti kalau kita paksakan ambil, maka akan sia-sia,” katanya.
Lebih lanjut, wanita kelahiran asli Kediri itu mengharapkan kepada seluruh pendonor agar senantiasa menjaga kesehatan, mengingat saat ini banyak sekali bermacam penyakit dan virus yang diakibatkan oleh kecerobohan orang itu sendiri yang kurang peduli masalah kebersihan.
Sehubungan dengan beberapa persyaratan umum yang wajib dipatuhi dalam kegiatan donor darah adalah, dr. Ira mengatakan ketentuan tersebut diantaranya yang calon pendonor tekanan darahnya normal, minimal telah 3 bulan sejak terakhir ia donor darah, lalu jika yang bersangkutan pernah mengalami sakit malaria minimal 3 tahun setelah yang bersangkutan dinyatakan sembuh dari malaria, serta bagi wanita, tidak sedang mengalami datang bulan atau haid. (pr)
PERINGATI HARI KARTINI
WANITA TNI APEL BERSAMA
WANITA TNI APEL BERSAMA
SURABAYA - Wanita TNI (Kowad, Kowal dan Kowara) serta Polri (Polwan) Rabu (21/4) memperingati hari Kartini 2010 dengan upacara militer, yang berlangsung di lapangan upacara Armatim Surabaya, dengan Thema “ Dilandasi semangat RA.Kartini, wanita TNI siap meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan semangat kebangsaan serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendukung tugas pokok TNI”.
Dalam mengisi hari Kartini tersebut, baik Polwan atau Wanita TNI mempunyai kreasi sendiri-sendiri. Contohnya Wanita TNI, walaupun masih mengenakan busana resminya sebagai anggota militer, para wanita TNI menambah selempang layaknya peserta ratu kecantikan dengan bertuliskan “Kartiniku”, yang terjun secara langsung dijalanan, menyatu dengan saudara lainnya (Polwan) ikut membantu mengatur lalu lintas di beberapa jalan protokol Surabaya.
Selain ikut membantu mengatur lancar dan tertibnya para masyarakat pengguna jalan raya, para wanita TNI juga tidak canggung dalam membantu menyeberangkan para pengguna jalan lainnya.
Sebagai penerus perjuangan RA.Kartini, para wanita TNI dan Polwan beserta karyawati dari berbagai instansi pemerintah atau swasta se wilayah Surabaya, menyemarakkan peringatan hari Kartini 2010 ini dengan meningkatkan pelayanan, khususnya yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak.
Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Panglima Kodam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI Suwarno, S.IP., M.Sc. selaku Komandan Garnisun Tetap III Surabaya antara lain mengatakan, apel bersama wanita TNI setiap tanggal 21 April seperti hari ini, merupakan tradisi yang memiliki makna ganda; antara lain merupakan bagian integral dari upaya pembinaan satuan guna lebih meningkatkan soliditas dan solidaritas wanita TNI, yang merupakan refleksi historis guna mengenang, memetik hikmah dan melanjutkan cita-cita perjuangan para Pahlawan, khususnya Pahlawan wanita seperti RA.Kartini, sebagai salah seorang tokoh dan pejuang emansipasi atau kesetaraan gender di Indonesia. (p03)

7 LUKISAN KARYA ISTERI PANGDAM V/BRW
SEMARAKKAN “SPIRIT OF THE WOMAN”
SEMARAKKAN “SPIRIT OF THE WOMAN”
SURABAYA -
Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah V/Brawijaya Ny.Toety Suwarno (Isteri Pangdam V/Brawijaya), Rabu (21/4) malam ikut serta memeriahkan pameran lukisan yang bertajuk “Spirit of The Woman” dengan mengikutsertakan 7 buah hasil karya lukisanya, yang bertempat di Hotel JW Marriott Surabaya.
Pameran lukisan yang menandai peringatan hari Kartini dan menyajikan karya-karya lukis para wanita Surabaya tersebut di hadiri juga oleh Pangdam V/Brawijaya, Pangarmatim beserta isterinya (Ny Dewi Among Margono) dan isteri Wakil Gubernur Jatim Ny. Fatma Saifullah Yusuf serta Ny. Hetty Pratiknyo (isteri Kapolda Jatim).
Lukisan-lukisan yang di pamerkan, seluruhnya hasil cipta dan karya kreatif kaum perempuan, dengan menghadirkan berbagai obyek dan tema yang terasa dengan kehidupan kaum perempuan atau ibu. Sebanyak 47 lukisan karya 21 pelukis perempuan, yang salah satunya adalah isteri Pangdam V/Brawijaya Ny.Toety Suwarno dipamerkan disana. Dan pelukis lainnya adalah K Juwito, Nunung Bakhtiar, Siti Rijati, Nunik Silalahi, Nanik Saleh, Ovy, Ranny, Dewi Margono dan Novita Sechan. Karya-karya mereka terpampang di sisi kanan tangga menuju lantai 2 dan di lantai 2 Hotel JW Marriott.
Sementara itu Ny.Toety Suwarno, pada pameran tersebut menuangkan hasil saputan kanvasnya berupa pemandangan alam pegunungan dengan air danau yang menyejukkan.
Karya seni lukis hasil imajinasi-kreasi kaum perempuan tersebut menghiasi Hotel JW Marriott, menebarkan oase kesejukan tatkala pengunjung maupun tamu hotel hendak melepas kepenatan. Para pelukis perempuan rata-rata usianya tidak lagi muda, bahkan Ny. K Juwito sudah berusia 80 tahun, namun semangat dan gairah dalam berkreasi perlu mendapatkan acungan jempol. Mereka tetap berkarya dan kreatif serta bisa di katakan produktif. (p03)
Langganan:
Postingan (Atom)